Seminar kebangsaan “membentengi bahaya radikal kanan & kiri”

Adanya gejolak radikalisme yang terjadi di Indonesia sudah sangat meresahkan. Paham radikal ini ingin merubah ideologi bangsa Indonesia yakni Pancasila dan berusaha memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Paham radikalisme yang berkembang saat ini, seringkali disusupkan pada organisasi masyarakat, kelompok perkumpulan maupun melalui santri pondok pesantren dengan melakukan berbagai macam doktrin. Olehkarena itu, perlu diadakan penguatan di berbagai aspek guna membentengi masyarakat luas khususnya para santri dan generasi penerus bangsa. Penguatan dalam hal ini bisa dilakukan melalui berbagai macam kegiatan. Salah satunya dengan memberikan sosialisasi kepada masyarakat.
Berdasarkan masalah tersebut diatas, Selasa 27 Agustus 2019 lalu, yayasan pondok pesantren UNIQ Nusantara berinisiatif mengadakan seminar kebangsaan dalam rangka membentengi bahaya radikal kanan dan kiri. Seminar ini diselenggarakan di aula kecamatan Bonang kabupaten Demak.
Acara ini dihadiri puluhan santri, kesbangpolinmas kabupaten Demak, muspika kecamatan bonang serta komandan kodim 0716 Demak, letkol Infanteri Abi Kusnianto.
Pada kesempatannya, seminar kebangsaan dalam rangka membentengi bahaya radikal kanan dan kiri yang dimoderatori oleh ketua PWI Bapak Hasan Hamid, Narasumber sekaligus Pengasuh pondok pesantren UNIQ Nusantara KH. M Abdul Gufron Al Bantani, menyerukan “Sambung oyot, sambung rasa, sambung jagat, NKRI harga mati. Kibarkan merah putih dari Sabang sampai Merauke. Bangkitkan persatuan dan kesatuan,”
Seminar kebangsaan yang juga menghadirkan Kabinda Jateng, Brigjen TNI Sondi Siswanto ini berlangsung dengan lancar dan sarat akan makna. Brigjen TNI Sondi Siswanto menjelaskan bahwa ada dua paham radikal yang masuk Indonesia, yakni radikal kanan dan kiri. Radikal kanan adalah kegiatan kelompok yang sifatnya ingin merubah bentuk negara yang ada menjadi kilafah atau negara Islam. Sedangkan radikal kiri adalah kelompok atau organisasi yang ingin merubah Indonesia menjadi negara komunis.
“Kedua paham radikal ini sangat bertentangan dengan Indonesia. Kita tolak mentah – mentah paham radikal ini. Indonesia tidak bisa menjadi negara Islam atau komunis,” kata Brigjen TNI Sondi Siswanto.
Selanjutnya beliau menambahkan, Indonesia adalah negara besar yang majemuk dengan berbagai macam suku, ras dan agama , sehingga tidak bisa dijadikan negara Islam saja. Dengan kemajemukan ini diharapkan kita bisa hidup rukun dan damai, bersosialisasi tanpa memangdang perbedaan. Hidup berdampingan dengan semangat gotong royong.
“Mari kita sama-sama mengantisipasi dan saling menjaga agar radikal kanan dan radikal kiri tidak masuk di wilayah kita,” tandasnya. (Selasa, 27/08/2019)
HaWer

Leave a Reply

Your email address will not be published.