Tradisi Apitan, Tradisi Rasa Syukur bagi Masyarakat Bonangrejo Bonang Demak

Tradisi apitan atau lebih dikenal dengan istilah sedekah bumi mungkin bagi kalangan masyarakat jawa adalah hal yang lumrah dan biasa, dikarenakan ritual tersebut jamak dilakukan setiap tahun, tepatnya dibulan Apit dalam kalender aboge, atau bertepatan dengan bulan dzulqo’dah dalam penanggalan hijriyah. Tidak jelas siapa yang memulai tradisi ini, namun diyakini mulai dikenalkan pada masa penyebaran Islam di Tanah Jawa oleh para Wali Sembilan sekitar 500 tahun yang lampau.
Makna filosofisnya adalah manusia tercipta dari tanah yang merupakan bagian dari unsur bumi, kemudian hidup juga di atas bumi, makan dan minum dari tetumbuhan juga makhluk yang mengkonsumsi unsur tanah, dan kelak saat manusia itu matupun akan kembali ke bumi. Sehingga perlu keselarasan dan harmoni antara manusia dengan bumi sebagai ruang yang ditinggali manusia itu sendiri. Sedekah bumi dan apitan menjadi sarana syukur terhadap limpahan nikmat atas hasil bumi, hasil panen masyarakat selama setahun ini.
Tradisi Apitan di Salah satu desa di Kecamatan Bonang tepatnya di Desa Bonangrejo Kabupaten Demak, dengan di awali dengan ziarah kubur di makam cikal bakal desa. Umumnya tradisi apitan diisi dengan pagelaran wayang kulit dan kesenian yang lainnya. Tidak ada yang keliru. Hal ini sebagai bentuk pelestarian budaya jawa yang dimulai oleh Sunan Kalijaga kala berdakwah dengan Wayang kulitnya.
Apitan pagelaran wayang kulit semalam suntuk hadir dalam acara tersebut Camat Bonang Haris Wahyudi Ridwan AP MSi mengungkapkan ngiri uri kabudayan Jawa butuh komitmen dari semua komponen, dari pemerintah masyarakat dan tokoh masyarakat. Apresiasi luar biasa bisa berkumpul nya masyarakat semua dan mewujudkan kegembiraan yang luar biasa, bersyukur, imbuhnya.
Seperti Desa yang lain, tidak ada yang berbeda dengan pelaksanaan Apitan hari Sabtu tanggal 20 Juli 2019 di Desa Bonangrejo Kecamatan Bonang Kabupaten Demak, Lebih jauh, doa dan pengharapan dari masyarakat desa dengan adanya apitan sebetulnya adalah agar selamat di atas bumi maupun kala telah ada di dalam bumi kelak.
Isyarat dari ungkapan diatas adalah Kala manusia ingin selamat ketika hidup di dunia dan kelak saat sudah mati maka mereka tidak boleh meninggalkan sholat, karena sholat lima waktu sebagai kewajiban bagi orang islam yg akan menyelamatkan mereka, terlebih sholat yang dilakukan dengan berjamaah. Karena dengan berjamaah mengajarkan akan nilai-nilai kerukunan dengan tetangga dan sebagai sebuah gerakan bersatunya umat islam.
(HaWeEr)

Leave a Reply

Your email address will not be published.